Senin, 02 Mei 2011

Dua Pulau Terancam Hilang

PULAU MARONGAN,REMBANG
Rembang - Dua pulau besar di wilayah Kabupaten Rembang yakni Pulau Gede dan Marongan terancam hilang akibat tingginya abrasi dan kurangnya perhatian para pihak pemerhati lingkungan, termasuk dari kantor lingkungan hidup kabupaten setempat."Dua pulau kita terancam hilang, yakni Pulau Gede dan Marongan. Pulau Gede yang awalnya memiliki luas antara 20-30 hektare kini tinggal sekitar lima hektare saja. Untuk Pulau Marongan dari 60 hektare kini tinggal 2-3 hektare saja," kata Bupati Rembang, Mochammad Salim saat menyampaikan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) Bupati Rembang Tahun 2010, di Sidang Paripurna DPRD Kabupaten Rembang, Senin (2/5).

Padahal, seperti diketahui, Pulau Gede kini masih kerap dikunjungi wisatawan maupun pemancing yang mampir ke Rembang. Disebutkan, Pulau Gede biasa ditempuh lewat dua jalur, yakni dari kawasan wisata Taman Rekeasi Pantai Kartini (TRPK) atau dari pantai pasir putih Tasikharjo, Kaliori, dengan menyewa perahu nelayan seharga Rp 100.000 sehari.

"Karena sejumlah pulau-pulau kecil mulai terkikis, kami minta ke depan Kantor Lingkungan Hidup dan instansi terkait semakin keras berupaya untuk menyelamatkan pulau-pulau tersebut," katanya menandaskan.

Menurut Jari (40), nelayan asal Desa Tasikharjo, Kecamatan Kaliori yang kerap mencari ikan maupun rajungan di sekitar Pulau Gede menyebutkan, luas Pulau Gede saat air pasang kini tak lebih dari dua hektare saja.

''Kalau air surut atau hingga jam delapan pagi, daratan berupa karang memang masih terlihat, sehingga luasannya masih mencapai sekitar lima hektare. Namun setelah air pasang, daratan pulau menyusut hingga hanya sekitar dua hektare saja. Padahal dulu lebih luas lagi, meski air pasang sekalipun," katanya.

Selain Pulau Gede dan Marongan, pulau besar lainnya yang tercatat di Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Rembang, yakni Pulau Sualan seluas lebih dari 2 hektare.

Selain itu, juga ada 17 gugusan karang yang memiliki luasan areal antara 0,5 hektare hingga yang paling besar mencapai 2 hektare, yakni Karang Kapayu. (Pujianto-02)
read....

Selasa, 12 April 2011

Pekerja Lokal PLTU Sluke Terancam Dirumahkan

Sluke - Sebanyak 1.500 tenaga kerja yang bekerja di proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) I Jawa Tengah I Kabupaten Rembang hingga Maret 2011 ini dipastikan akan terkoreksi hingga menjadi hanya sekitar 300 orang pada saat proyek itu diserahkan ke PT PLN (Persero) Juni 2011 mendatang, sehingga pekerja lokal terancam dirumahkan.
"Jumlah tenaga kerja saat ini mencapai 1.500 orang, namun pada saat diserahterimakan nanti atau pada saat semua pembangkit baik di Unit I maupun II beroperasi, maka jumlah tenaga kerja akan terkoreksi hingga tinggal 300 orang saja," kata Manajer Sektor PLTU I Jateng Rembang, Slamet Riyanto di Rembang, Sabtu (2/4).

Ia menyebutkan, 300 orang tersebut akan menempati berbagai posisi antara lain 'front office', tenaga teknis, operator kendaraan, dan tenaga keamanan. Disinggung soal kemungkinan masih dipakainya tenaga lokal, Slamet menyatakan hal tersebut masih mungkin walaupun kemungkinan itu kecil.

"Umumnya kapasitas tenaga lokal dalam pekerjaan yang membutuhkan kapasitas lebih biasanya masih tak banyak dimiliki. Karena itu, pemakaian tenaga lokal praktis akan sangat jauh berkurang. Namun, bukan berarti tenaga kerja lokal sama sekali tidak akan dipekerjakan lagi. Mereka memang masih harus belajar untuk menjadi lebih profesional dan jika diperlukan akan diselenggarakan seleksi ulang," katanya.

Mengenai ketersediaan pasokan batu bara sebagai sarana yang digunakan untuk menghasilkan uap, Slamet menyatakan saat ini pihaknya telah memiliki cadangan batu bara di PLTU Sluke hingga 260.000 ton. "Jumlah itu masih akan mampu mencukupi kebutuhan pasokan hingga 50 hari mendatang karena belum semua unit beroperasi penuh," katanya.

Sementara, kata ia, untuk PLTU yang berkekuatan 2x315 MW seperti PLTU 1 Jateng Rembang atau PLTU Sluke, cadangan batu bara harus selalu cukup untuk persediaan minimal 20-30 hari pascastok.

"Ke depan, kebutuhan rata-rata batu bara per hari untuk dua unit di PLTU Sluke ini sekitar 7.000 ton," katanya. PLTU Sluke sudah mendatangkan batu bara dari Kalimantan sejak 2009 silam dan pernah terkendala karena cuaca esktrem berupa ombak tinggi di akhir tahun 2009 hingga pertengahan 2010 lalu, katanya
read....

Awas......!!! Calo CPNS Belusukan Ke Kampung

Rembang – Wakil Bupati Rembang Abdul Hafidz meminta masyarakat mewaspadai ulah oknum tak bertanggungjawab yang menawarkan posisi pegawai negeri sipil dengan memberikan imbalan uang puluhan juta rupiah.

Apalagi, berdasarkan penelurusan wartawan koran ini, oknum yang tak bertanggung jawab dan umumnya disebut calo ini sudah mulai blusukan kampung menawarkan jasanya. Keterangan yang berhasil dihimpun menyebutkan seorang yang berminat, baik lulusan SMA hingga sarjana, harus menyediakan uang paling sedikit Rp80 juta."Pemkab belum membuat keputusan tetap untuk menyelenggarakan pengadaan PNS pada 2011 ini. Sebab, Badan Kepegawaian Nasional belum memberikan keputusan pasti soal nasib para pegawai yang telah masuk data base pendataan sejumlah 550," katanya.

Ia menjelaskan, sebelumnya, BKN sempat menginformasikan hanya akan mengangkat dulu 30 persen dari 550 pegawai yang telah 'listing' sebagaimana hasil pendataan kategori pertama dan kedua pada 2010 lalu. Namun, lanjutnya, belum lama ini, pemkab kembali menerima informasi bahwa semua pegawai yang telah listing di data base pendataan akan diangkat secara keseluruhan atau sebanyak 550 tersebut.

"Jika ternyata keputusan resminya adalah bahwa 550 pegawai dalam data base tersebut diangkat secara keseluruhan, maka besar kemungkinan tidak ada pengadaan PNS baru pada 2011 ini. Namun, bila tetap 30 persen, mungkin masih ada rekrutmen pegawai baru pada 2011 ini. Hanya, kuotanya, kami masih belum menerima surat resminya," katanya.

Karena itu, kata Abdul Hafidz, jika diluaran sudah beredar tawaran-tawaran dari oknum yang tak bertanggung jawab, pihaknya meminta masyarakat segera melaporkan kepada pemkab setempat.

"Kami minta masyarakat tidak memercayai segala bentuk dan praktek percaloan serta segera melaporkannya kepada pemerintah dan penegak hukum jika ditemui yang demikian. Dan secara umum, kami memandang jumlah pegawai yang vada sudah cukup. Hanya memang ada instansi yang kurang, dan di sisi lain justru menyebut kelebihan," katanya.

Pada kesempatan lain, salah seorang tenaga pendidik yang enggan dikorankan namanya, mengaku sempat mendapatkan kesempatan untuk memanfaatkan tawaran serupa, menjadi PNS dengan memberikan imbalan puluhan juta rupiah.

"Namun, saya tidak mau. Sepertinya, sang oknum lantas menawarkannya kepada sejumlah guru tidak tetap. Mereka rata-rata sangat tertarik, karena penjelasan sang oknum cukup menjanjikan, walapun sebagian ada yang ragu," katanya mengungkapkan. (Pujianto-02)
read....

Pencinta Alam Konservasi Hutan Gunung Butak

Gunem - Ratusan orang yang tergabung dalam tiga kelompok tani dan sejumlah elemen pencinta lingkungan di tiga desa masing-masing Desa Pakis, Kecamatan Sale serta Desa Dowan dan Suntri, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, Minggu (10/4), menanam sedikitnya 1.500 bibit pohon berbagai jenis untuk konservasi hutan di wilayah kawasan Gunung Butak.Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 WIB tersebut juga melibatkan pemerintah desa setempat, kecamatan, balai konservasi sumber daya air (BKSDA) wilayah Pati, Perum Perhutani, komunitas Gunung Butak, forum anak tiga desa, serta dikerjasamakan dengan Plan Indonesia.

Camat Gunem, Teguh Gunawarman mengatakan kawasan Gunung Butak memerlukan konservasi segera dan berkelanjutan agar ekosistem di wilayah itu senantiasa terjaga.

"Sebagai kalifah kita wajib melestarikan alam sekitar, khususnya di kawasan Gunung Butak. Keberadaan pohon menjadi sangat penting sebagai penampung air dan sarana pencegah bencana longsor. Kegiatan ini sebagai upaya bersama melestarikan ekosistem alam," katanya menandaskan.

Ia menyebutkan, upaya konservasi tersebut berawal dari kesadaran warga terhadap kerentanan bencana (longsor), keterpeliharaan sumber air desa di lereng gunung, serta perlunya pelestarian telaga sebagai penampung air. "Kegiatan ini sekaligus sebagai tindak lanjut workshop yang membahas perlunya partisipasi masyarakat dalam konservasi kawasan hutan Gunung Butak," katanya menambahkan.

Adapun berbagai bibit pohon yang ditanam antara lain bibit tanaman kedoya, beringin, ketapang, jabon, trembesi, aren, wuni, dan salam.

Pada kesempatan lain, Kepala Urusan Kemasyarakatan berasal dari Dusun Picis Desa Dowan, Sanep mengatakan pihaknya cukup bergairah melakukan konservasi hutan di wilayah Gunung Butak tersebut. Hanya saja, ia berharap masyarakat bisa bersama-sama menjaga tanaman-tanaman tersebut.

"Setelah ditanam seperti ini, jangan sampai justru terjadi lagi aksi tebang menebang secara sembarang. Dan untuk menjamin keberlanjutan upaya konservasi ini, kami telah mengusulkan aparat pemerintah di tiga desa tersebut untuk menerbitkan peraturan desa yang memuat tentang konservasi ini, berikut sanksi bagi mereka yang melakukan aksi pengrusakan hutan," katanya menandaskan. (Mulat Riasnan-02)
read....

Burung Pemangsa Hama Ini Menghilang

Rembang - Populasi burung blekok dan kuntul di berbagai daerah di Kabupaten Rembang mulai menipis bahkan keberadaannya nyaris hilang karena perburuan dan perubahan iklim, sehingga perlu dilindungi dengan sebuah peraturan daerah.
Aktivis lingkungan dari Vital Institute, Zamroni di Rembang, Minggu (10/4) mengatakan populasi burung blekok dan kuntul memang terbilang berkurang drastis. "Pada 1990-an, populasi burung ini begitu banyak. Jumlahnya ribuan di tiap daerah. Namun, kini, populasinya menipis tinggal beberapa saja di tiap daerah. Tentu ini sangat jelas terpantau," katanya.

Menurut ia, kedua burung tersebut memiliki fungsi ekologi yang penting bagi alam, antara lain sebagai penyerbuk sejumlah tanaman dan pemangsa hama pertanian.

"Menipisnya populasi burung blekok dan kuntul ini juga berkorelasi dengan mengganasnya serangan hama-hama pertanian belakangan ini. Tak ada lagi pemangsa hama-hama di sawah, seperti wereng atau pengerek batang, karena populasi kedua burung tadi yang minim. Akhirnya, petani lagi-lagi sangat menggantungkan pemberantasan hama dari pestisida saja," katanya menandaskan.

Populasi burung blekok dan kuntul, lanjut ia, juga semakin terancam oleh perubahan iklim, selain oleh perburuan. Ia menyebutkan, sebenarnya kedua burung ini telah mendapatkan perlindungan dari Undang Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

"Namun, di tingkat daerah, belum ada peraturan yang secara khusus mengatur tentang pelestarian hayati berikut upaya-upaya menjaga ekosistem alam, sehingga keberadaan peraturan tersebut menjadi diperlukan," katanya menambahkan.

Iwan Rimbawan (36), salah seorang warga RT 1 RW 5 Desa Sale, Kecamatan Sale mengatakan populasi blekok dan kuntul memang semakin terancam. "Dulu, ketika 1980-an, setiap hari, begitu banyak bisa dijumpai blekok dan kuntul. Akan tetapi, sekarang jumlahnya tinggal satu dua saja di sawah," katanya.

Menurutnya, menipisnya populasi kedua burung tersebut bukan karena perburuan, melainkan karena perubahan iklim secara ekstrim. "Pasalnya, populasi blekok mulai berkembang saat musim mendekati kemarau. Blekok juga tergolong sebagai burung yang cukup sulit diburu dan hidupnya berpindah-pindah," katanya.

Sugianto (48), warga Dusun Nglakeh Desa Logede, Kecamatan Sumber mengatakan baik perburuan maupun perubahan iklim, sama-sama menjadi penyebab menipisnya populasi blekok dan kuntul.

"Memang, kedua burung itu merupakan pemangsa hama-hama di sawah. Barangkali ketiadaan burung-burung itu sekarang, menjadi merajalelanya hama-hama di lahan pertanian. Soal perlu tidak dilindungi, tentu harus," katanya. (Pujianto-02)
read....

Serang Sale, Warga Dihimbau Galakkan Kebersihan

Sale – Hama ulat bulu menyerang puluhan pohon mangga di dusun Krenjo desa Sale Kec. Sale.
Ulat gatal yang terkesan sangat menjijikkan itu memenuhi batang batang pohon, jumlahnya diperkirakan mencapai ribuan. Berbeda dengan kasus di Probolinggo Jawa Timur, ulat bulu di dusun Krenjo ini belum sampai masuk ke rumah rumah penduduk.Bakri, salah satu warga dusun Krenjo desa Sale mengatakan ia buru buru menebangi pohon mangga miliknya, untuk mencegah penyebaran ulat bulu. Terlebih lagi ramainya pemberitaan di televisi, membuat Bakri agak cemas.
Begitu pula dengan warga lain, Peni. Menurutnya ulat bulu ini berkembang sangat cepat. Tidak hanya memakan daun, tetapi ulat berukuran besar sudah masuk ke sela sela batang kayu. Peni lebih senang menggunakan obor api, untuk mematikan ulat bulu. Obor dipasang pada ujung galah, sehingga bisa menjangkau hingga ke pohon bagian atas. Melalui pengendalian serentak, hama ulat bulu sudah semakin berkurang.

Koordinator Petugas Pengamat Hama Kab. Rembang Sri Hartono mengatakan cara mengobori lebih tepat, dibandingkan memanfaatkan obat pestisida.
Selain ramah lingkungan, ulat ulat yang terjatuh ke tanah bisa menjadi santapan ayam.

Sri Hartono menghimbau kepada masyarakat senantiasa menjaga kebersihan, terutama di areal perkebunan mangga.
Hal itu merupakan langkah pencegahan yang efektif. Ia beralasan ketika daun daun banyak berserakan di tanah, menjadi tempat nyaman untuk bertelur kupu kupu, kemudian berkembang menjadi ulat.

Selain menyerang dusun Krenjo, hama ulat bulu juga sempat muncul di kawasan desa Tengger Kec. Sale dan desa Samaran Kec. Pamotan. Tetapi langsung cepat ditangani.
Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Rembang hari Senin menyerukan kepada seluruh petugas pengamat hama, meningkatkan pengamatan dini.
read....

Kamis, 31 Maret 2011

Menangis, Ketika Terima Santunan

Rembang – Hari Kamis bertempat di Kantor Satlantas Polres Rembang, Ahli waris korban kecelakaan maut di jalur Pantura Jl Gajah Mada Rembang menerima uang asuransi Jasa Rahardja.
Kegiatan tersebut masih diselimuti rasa duka, sehingga keluarga korban tak kuasa menahan tangis.
Ahli waris Almarhum Hari Widiarso warga Gang Magersari Kutoharjo Rembang diwakili oleh isterinya Endang Dwi, kemudian ahli waris Almarhum Ngatemin warga Bogoharjo Kec. Kaliori diwakili isterinya Pasriatun, sedangkan untuk korban meninggal dunia lainnya Dimas Setiawan warga Leteh, pagi itu hadir ayahnya Djuwedi.
Masing masing korban meninggal dunia menerima santunan sebesar Rp 25 juta. Kepala Jasa Raharja kantor wilayah Pati, Riswandi menjelaskan pemberian santunan merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap korban kecelakaan lalu lintas.
Pihaknya berkomitmen cepat memproses dana asuransi, paling lama 5 hari setelah kejadian. Lebih singkat, maka akan jauh lebih baik, karena kebijakan itu menjadi langkah perbaikan pelayanan.
Pasriatun, isteri mendiang Ngatemin warga desa Bogoharjo Kec. Kaliori mengatakan uang santunan Rp 25 juta, menurut rencana akan digunakan untuk membayar hutang dan sisanya ditabung, demi masa depan kedua anaknya.
Selama ini Ngatemin menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Setelah meninggal akibat kecelakaan, ia belum tahu bagaimana cara mencukupi kebutuhan sehari hari.
Terkait santunan bagi korban luka luka yakni Luari warga desa Waru yang menjalani perawatan di RS dr R Soetrasno Rembang, Jasa Raharja sudah memberikan informasi kepada keluarga korban, bahwa besarnya santunan biaya perawatan dibatasi paling tinggi Rp 10 juta.
Sementara itu untuk 4 korban meninggal dunia asal Tuban dan Trenggalek Jawa Timur, berkas berkas pencairan santunan, pada hari Kamis dikirimkan kepada kantor Jasa Raharja di wilayah yang membawahi.
Sebagaimana kami beritakan sebelumnya, kecelakaan karambol terjadi di jalur Pantura Jl Gajah Mada depan SMKN I Rembang, Selasa siang lalu. 7 orang tewas dan dua lainnya mengalami luka luka.
read....